Commodity-based Currency adalah mata uang yang berdasarkan komoditas. Komoditas itu bisa berupa emas, perak, logam, mineral lainnya. Mata uang yang berdasarkan komoditas jika dirunut sudah ada sejak jaman Romawi dan Persia, bahkan mungkin lebih awal lagi. Kemudian berlanjut sampai kekhalifahan muslim. Pada waktu itu yang dipakai adalah emas dan perak. Berbagai alasan penggunaan emas di antaranya adalah sifatnya yang terbatas dan bisa diterima semua pihak.
Sekitar akhir 90 mencuat ide penggunaan emas oleh Mahathir sebagai mata uang kaum muslim untuk perdagangan dengan negara-negara Timur Tengah, tetapi ide ini berhenti di tengah jalan. Walaupun demikian embrionya tetap ada dengan munculnya penerbit dinar emas di Malaysia dan Indonesia.
Salah satu terobosan dalam commodity-based currency adalah penjangkaran mata uang Kanada (CAD) dan Australia (AUD) ke komoditas mineral alam. Ini dimungkinkna karena negara-negara tersebut mempunyai sumber daya alam yang dijadikan asas penilaian mata uangnya. Dengan boomingnya pasar komoditas di dekade lalu, maka CAD dan AUD menguat cukup signifikan terhadap USD. Kini dengan melempemnya commodity market karena resesi di Cina, mata AUD dan CAD terkoreksi.
Bagaimana dengan Indonesia? Dengan sumber daya alam mineral yang ada, sebenarnya bisa saja currency basket untuk devisa mulai berdasarkan komoditas. Hanya saja paradigmanya para ekonom belum bergeser dari fiat money, selain juga bakal ada reaksi dari lembaga-lembaga donor. Langkah awal yang menjadi ujian, bisakah IDR di-peg terhadap USD. Jika sudah bisa, maka langkah selanjutnya adalah menggeser pegging dari USD ke basket of currency. Setelah itu keranjang mata uang ini ditambahkan penilaian atas komoditas yang akan digunakan, seperti emas, timah, nikel.
Bakal banyak korban, hujatan, protes dan meme tentunya.... :) Ini suatu jalan alternatif memperkuat IDR, beresiko tinggi tetapi berharga untuk mengurangi ketergantungan terhadap USD.